Oleh: gispala | Mei 15, 2011

Puisi-puisi Soe Hok Gie [Lengkap]


Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.

Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Catatan Seorang Demonstran

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama. Berikut adalah puisi-puisinya:

MANDALAWANGI – PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

====================================================

“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie

SEBUAH TANYA

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

====================================================

PESAN

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973

====================================================

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)

Akhir perjalanan Soe:
15 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama kawan-kawannya Herman Lantang, Abdul Rahman, Idhan Lubis, Aristides Katoppo, Rudy Badil, Freddy Lasut, Anton Wiyana berangkat menuju Puncak Semeru melalui kawasan Tengger. Soe Hok Gie ingin bisa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di atap tertinggi Pulau Jawa tersebut. Tanggal 16 Desember, di tengah angin kencang di ketinggian 3.676 meter (dari atas permukaan laut), Hok Gie, Idhan, Rahman terserang gas beracun. Hok Gie dan Idhan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan nyawa mereka tidak sempat tertolong.

sumber: berbagai sumber

Tulisan Lainnya :

About these ads

Responses

  1. penyair yang demonstran, amat saya suka dengan Gie.

    terima kasih. saya izin mengoleksi nih.

    • silahkan kang, terimakasih sudah mampir :)

  2. soe hok gie,,,,

  3. sangat mengesankan semua kata2 gie

  4. kagum dgn soe hok gie, , ,

    My inspirasi
    Thank’s gispala

  5. makasih soe hok gie….
    karya mu menginspirasi semua pembaca mu …

  6. karya – karya yg luar biasa….!!! indah dan meng’inspirasi….^-^

  7. Postingannya sangat bagus & banyak memberikan informasi. . .

    Good luck gispala. . .

    • terima kasih. Barakallahu fiika :)

  8. aku anak lereng semeru ….hanya bsa berdoa d atas puncak…. karya mu buat orang luluh

  9. Luar biasa,, stiap kata tersimpan makna yang begitu dalam terutma tntang kndsi hati penulis.. kita di bawanya sadar akan kenyataan yang menimpa bangsa ini..
    smoga terlahir soe hok gie dari setiap genrasi, tulisanmu menginspirasi kita semua..

  10. CATATAN SEORANG DEMONSTRAN

    Penulis : Soe Hok Gie
    Penerbit : Pustaka LP3ES
    Halaman : xxx+385 hlm (SC)
    Ukuran : 15.5 x 23
    Harga : Rp 60.000

    ‘Catatan Seorang Demonstran’ Sebuah buku tentang pergolakan pemikiran seorang pemuda, Soe Hok Gie. Dengan detail menunjukkan luasnya minat Gie, mulai dari persoalan sosial polotik Indonesia modern, hingga masalah kecil hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Gie adalah seorang anak muda yang dengan setia mencatat perbincangan terbuka dengan dirinya sendiri, membawa kita pada berbagai kontradiksi dalam dirinya, dengan kekuatan bahasa yang mirip dengan saat membaca karya sastra Mochtar Lubis.

    “Gie”, banyak menulis kritik-kritik yang keras di koran-koran, bahkan kadang dengan menyebut nama. Dia pernah mendapat surat kaleng yang memaki-maki dia ” Cina yang tidak tahu diri, sebaiknya pulang ke negerimu saja”. Ibunya pun sering khawatir karena langkah-langkah “Gie” hanya menambah musuh saja.

    “Soe Hok Gie” bukanlah stereotipe tokoh panutan atau pahlawan yang kita kenal di negeri ini. Ia adalah pecinta kalangan yang terkalahkan dan mungkin ia ingin tetap bertahan menjadi pahlawan yang terkalahkan, dan ia mati muda.

    Semangat yang pesimis namun indah tercermin dimasa-masa akhir hidup juga terekam dalam catatan hariannya : “Apakah kau masih disini sayangku, bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.”

    “aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan dan harapan
    bersama hidup yang begitu biru”, Gie

    sms 0821.3382.2284

  11. soe hok gie,,,,,,,,,,, berbahagialah engkau dlm ketiadaan,,,,,,,,,,!!!!!!!!!!!!!!!!!! disuatu ketika kita kan bertemu dalam ketiadan itu,,, bercerita tentang masa perjuangan kita di alam terbatas,,,,,,,,,,,,,,

  12. GIE.. kini ku merasa, masa itu kembali datang..

  13. Reblogged this on gobloggo4.

  14. gie tokoh yang hebat..dia merdeka dalam jiwa dirinya..dan dia (gie) adalah bagian yang juga memerdekakan jiwa ini..dalam jalan-jalan yang ku tempuh menghawatirkan..
    dan aku merdeka.

  15. ane suka top

  16. indah memang puisimu
    seindah pangrango
    KOMPAS ( komunitas pecinta alam setieng )

  17. Tokoh inspiratif.. Sangat dibutuhkan skali tokoh seperti Gie saat ini,,
    Bertanyalah pada diri kita sendiri…

  18. Izinkan lah yah Allah sosok soe hok gie berikutnya,ciptaanmuuuu membutuhkan sosok seperti itu sampai kapanpun

  19. [...] : http://gispala.wordpress.com/2011/05/15/puisi-puisi-soe-hok-gie-lengkap/ Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this. 30 Jul This entry was [...]

  20. mohon ijin gan untuk di kopi gitu buat koleksi soal’a gw suka bgt amak sosok gie dan masih penasaran bgt sama sejarah’a.,.,mohon bantuannya kalo ada tulisan soe hok gie yg lebih lengkap tolong di baging,..,terima kasih sebelumnya gan

  21. saya selalu terpesona dengan gaya menulisnya gie, semangat!! ^_^

  22. maksi gie atas kata_kata mu banyk memberikan inspirasi pda ku

  23. Numpang jempol…..

    Tiada yang lebih puitis, selain bicara TENTANG kebenaran.

  24. aku salut akan perjuanganmu soe hok gie

  25. kau inspirasi buat ku dan mungkin semua pendaki akan keindahan yang jarang manusia tau

  26. mantap gan, lanjutkan lagi, gie memang layak diteladani

  27. gie…terimakasih telah membuka mata dan hatiku untuk mulai peduli dengan alam sekitar dan lingkunganku…karyamu semasa hidup menginspirasi aku dan mempengaruhiku dalam setiap tindak tandukku di keseharian ini.
    semoga muncul kembali soe hok gie – soe hok gie yang baru di setiap sudut negeri ini….terasing lebih baik, daripada hidup dalam kemunafikan….

  28. izin copy gan ini juga buat di blog kok, terima kasih :D

  29. [...] dalam perjalanan. Maka polanya linear. Semakin terlatih maka semakin matang kita dalam memimpin. Soe Hok Gie, adalah salah satu contoh manusia yang memiliki jiwa kepemimpinan yang hebat. Semua ide dan [...]

  30. izin copy yyaaa gan :D

  31. […] sumber: http://gispala.wordpress.com/2011/05/15/puisi-puisi-soe-hok-gie-lengkap/ […]

  32. kereeeeeeeeeeen

  33. ijin copy ya, makasih

  34. Reblogged on http://catatanpemimpipimping.blogspot.com/2013/10/karya-ternama.html

  35. Reblogged this on "Mochas".

  36. ad ebook nya persimpangan kiri jalan eg yha ?

  37. bagai embun, kau basahi keringnya inspirasi..

  38. […] gispala blog sumber: […]

  39. adegan terakhir tidak seperti di filmnya eah,

  40. keren..

  41. i like’s


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.258 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: