Oleh: gispala | Mei 10, 2011

Setialah Seperti Owa Jawa


Seekor Owa Jawa yang terdapat di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan spesies kera kecil tanpa ekor dengan rambut berwarna abu-abu dan memiliki nyanyian yang indah. Bulu Owa Jawa, bodi tubuhnya yang kecil langsing dan paling seksi dibanding jenis kera lainnya serta gerakannya yang gesit membuat Owa Jawa terlihat genit. Sayangnya, Owa Jawa termasuk hewan yang mulai langka dan nyaris punah sehingga oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam status konservasi “endangered” (Terancam Punah).

Owa jawa merupakan satwa yang dilindungi sejak tahun 1931. Penyelamatan habitat asli Owa Jawa yang masih tersisa, ada di Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun – Salak, Ujung Kulon dan daerah sekitarnya yang masih memiliki hutan. Jadi Owa saat ini ditemukan hanya di Pulau Jawa bagian barat.

Jenis kera yang merupakan lambang kesetiaan pasangan, karena satu kesatuan keluarga selalu hanya di terdiri atas si jantan sebagai bapaknya, induk dan dua anak saja cukup. Tidak pernah lebih. Mungkin ini salah satu kesetian yang harus di tiru oleh manusia.

Owa Jawa, hidup di dataran tinggi lebih dari 700 m. Setiap pagi sekitar jam 7 sampai jam 10 selalu meneriakkan suara suara khasnya sebagai kera owa saling bersautan. Ini menunjukkan daerah kekuasaannya. Owa bergelantungan dengan sangat cekatan dan gemulai diantara ranting dan dahan pohon besar, menggunakan kedua tangannya. Sang anak yang masih kecil masih menempel didepan dada induknya. Dengan satu tangan bergelantung pada cabang, tangan lainnya digunakan untuk makan. Makanan didapat dari buah buahan sekitarnya yang terdapat di hutan ini. Diantaranya buah Ganitri dan buah Saninten.

Di Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dilakukan pengkayaan pohon pakan dan pohon tidur dilakukan di hutan sekunder yang berada dalam kawasan taman nasional dengan cara menanam jenis tumbuhan asli setempat serta digunakan oleh Owa Jawa di daerah tersebut.

Taman nasional yang berada di tiga kabupaten ini, yaitu Cianjur, Sukabumi, dan Bogor mempunyai fungsi yang sangat penting, tidak hanya berfungsi menjaga keberadaan hewan dan tumbuhan yang berada dalam kawasan tersebut tetapi juga berfungsi sebagai daerah penyangga kehidupan bagi kota-kota yang berada di sekitarnya seperti Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Jakarta. Taman nasional ini merupakan sumber air bagi banyak sungai yang mengalir di Bogor, Jakarta dan sekitarnya.

Sosialisasi lingkungan Hutan di Taman Nasional Gn Pangrango perlu dilakukan kepada masyarakat, agar tidak rusak dan habis karena adanya tangan jahil. Bukan hanya Owa Jawa yang kehilangan tempat tinggal, bahkan bencana banjir pun akan melanda Jakarta dan kota sekitarnya.

Karena Owa Jawa adalah satwa dilindungi, maka tidak boleh dijadikan peliharaan di rumah. Marilah mulai saat ini, mulai dari diri kita sendiri untuk tidak membeli dan tidak memelihara Owa Jawa di rumah. Mendingan memelihara pembantu rumah tangga yang baik dari Jawa.

Tulisan Lainnya :


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: