Oleh: gispala | Desember 4, 2012

Sebaiknya Renungkan Kembali Mengapa Kita Harus Naik Gunung?


kerusakan alamManusia selalu takut akan bencana serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan olehnya namun tanpa disadarinya kerusakan yg paling parah justru berasal dari dalam manusia itu sendiri. Alam bisa mengontrol dirinya sendiri sementara tanpa kita sadari bencana kemanusiaan yang paling parah justru berasal dari manusianya itu sendiri.

Sosok pencinta alam sebagaimana yang kita ketahui adalah sosok yang diharapkan bisa menjadi pelopor dalam  menjaga serta melestarikan alam beserta kehidupan didalamya mencakup bagaimana dalam berpola serta berprilaku dalam kehidupan sehari-hari. Namun ironisnya, sebagaimana yang kita lihat dalam realita yang sementara berkembang justru sosok pencinta alam tidak (ataukah belum) berada dalam kondisi yang kita harapkan bersama.

Tidak ada yang salah dengan PENCINTA ALAMnya, sosok yang berada dalam PENCINTA ALAM tersebut yang tanpa dia sadari yang bertingkah seolah peduli namun kenyataannya tidak ambil pusing sama sekali akan keadaan tersebut. Alih-alih peduli akan Alam, peduli akan dirinya sendiri pun kita mungkin sepakat untuk mengatakan tidak!!! Apakah betul bisa kita katakan peduli apabila masih ada yang juga sosok pencinta alam yang masih mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang? Apakah ini yang kita namakan cinta?? tak ada dasar sama sekali akan hubungan yang simetris tentang menjaga kelestarian lingkungan beserta kehidupan didalamnya dengan masih mengkonsumsi barang-barang haram tersebut.

Belum lagi pengetahuan yang mendasar terkadang hanya dijadikan sebagai materi yang merupakan PROGRAM KERJA tanpa disadari akan pentingnya untuk dimiliki bagi setiap sosok tersebut. Bagaimana bisa untuk berbuat kalau kita tak tahu dan sama sekali tak paham? Maka yang ada di dalam kepala sosok tersebut hanyalah bagaimana untuk bisa SURVIVE ataukah keterampilan-keterampilan lainnya tanpa pernah mau untuk menyadari untuk apa dia harus pahami pengetahuan akan keterampilan tersebut. Apakah sosok pencinta alam tidak lagi harus belajar untuk mengetahui hal-hal yang lain selain daripada sekedar materi-materi ke-pencintaalam-an??

Sosok pencinta alam seolah-olah menjadi momok yang sangat menakutkan dalam setiap sisi kehidupannya. Arogansi, solidaritas buta, dan sebgainya bisa kita temukan di dalam sosok tersebut. Bagaimana tidak? Untuk bisa menjadi sosok pencinta alam harus melalui proses “diklat (atau apapun namanya)” yang notabene kekerasan bahkan ”MENCABUT HAK ASASI MANUSIA” bisa kita temui di dalamnya. Berarti setiap sosok pencinta alam bisa berpeluang untuk menjadi penjahat Hak asasi manusia? Sangat kontradiksi dengan kata CINTA yang ada didalam nama PENCINTA ALAM tersebut.

Tak ada yang salah dengan PENCINTA ALAM, yang (mungkin) salah adalah sosok-sosok yang dengan bangganya kebetulan berada didalamnya yang dengan kebanggaannya tak mau lagi mengerti apalagi sadar untuk apa dia berada didalam organisasi yang sebenarnya suci tersebut, yang (mungkin) salah adalah sosok-sosok yang dengan bangganya kebetulan berada didalamnya yang dengan kebanggaannya tak mau lagi untuk mendengar saran serta kritikan-kritikan dari luar seolah Cuma sosok pencinta alam saja manusia yang hidup. MANUSIA adalah Khalifah yang diturunkan untuk menjaga dan melestarikan Alam beserta seluruh kehidupan didalamnya, dan sosok pencinta alam bukanlah satu-satunya manusia di muka bumi ini. Seluruh warga bumi berhak untuk menjaga dan melestarikan Alam beserta seluruh kehidupan didalamnya.

Percuma naik gunung jikalau menaklukkan diri sendiri saja sulit untuk dilakukan. Seharusnya segala sisi-sisi kelam manusia bisa dikeluarkan bersamaan dengan bercucurannya keringat yang menetes dalam perjalanan menuju ke puncak gunung. Puncak gunung yang sebenarnya justru berada dalam diri manusia itu sendiri.

never stop exploringRasa-rasanya memang betul perlu ditinjau kembali mengapa setiap sosok pencinta alam harus ke puncak gunung padahal alam bukan hanya gunung saja dan pencinta alam bukanlah pencinta gunung. Seharusnya setiap sosok pencinta alam mulai sekarang harus bisa untuk membuka mata dan hati untuk bisa melihat bahwasanya untuk menjaga serta melestarikan alam beserta kehidupan didalamnya harus berarti pula untuk bisa menjadi khalifah yang baik. Maksudnya, semoga bisa menjadi teladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Mulai untuk membuka mata bahwasanya dengan memperhatikan manusia lain beserta kondisi disekelilingnya hal itu berarti langkah awal untuk menuju ke puncak gunung yang sebenarnya. Bukan puncak gunung yang biasa kita daki bersama.

Jikalau tak berbenah dan segera mengevaluasi diri, bukan tidak mungkin PENCINTA ALAM bisa kehilangan kesuciannya didalam perjuangan yang sebenarnya mulia ini. Bagaimana di satu sisi bisa memanusiakan manusia dalam sebuah konteks kaderisasi  dan sementara disisi lain berperan aktif didalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Salam untuk sebuah perubahan yang kecil menuju sebuah perubahan yang lebih besar.  Mulia ataukah hinanya sebuah organisasi berawal dari kesadaran-kesadaran penghuninya yang membawa nama baik organisasinya. Karena sebenarnya kesalahan-kesalahan sosok bisa diindikasikan sebagai suatu kesalahan-kesalahan organisasi yang menaungi sosok tersebut. Berpijak dari hal yang kecil untuk kemudian dihadapkan dengan realita-realita  dan membentuk sebuah kesadaran kritis dalam berpola serta berprilaku dalam kehidupan sehari-hari.  Semoga ide-ide yang tulus akan selalu selaras dengan realita-realita yang baik.

Salam Lestari. Never stop exploring and loving!

Dimas Putra Ramadhan

GIS/003/01/Salak 1 2211

“Karena Islam mengajarkan untuk mencintai alam”


Responses

  1. ikhwan…. klo alumni bogor educare mau ikutan jadi anggota boleh ga???

  2. gue setuju, soalnya ada rasa “sombong” jg si dalam diri gue.. abisan gmn, didikannya gitu si.. makanya gue ga suka dibilang pecinta alam, lebih suka dibilang mountaineer.. berat klo pecinta alam mah hehehe

  3. salam lestari..??
    artikelnya bagus-bagus, tolong di posting yg baru.
    I LIKE this
    by POLTAPALA

  4. Opini kamu asbun bro (ASAL BUNYI)

    1. Apakah betul bisa kita katakan peduli apabila masih ada yang juga sosok pencinta alam yang masih mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang? emang ada AD/ART organisasi Pecinta Alam yang mengharuskan Mabuk2an? Itu URUSAN PRIBADI. dan tidak bisa di jadikan bukti bahwa PA tidak peduli. tuhan aja ngasi pilihan surga sama neraka dan kita berhak milih.

    2.Apakah sosok pencinta alam tidak lagi harus belajar untuk mengetahui hal-hal yang lain selain daripada sekedar materi-materi ke-pencintaalam-an?? Organisasi PA tidak pernah membatas batasi ilmu, makanya jgn cuma menerima aja dari organisasi. Makanya banyak2 sharing jangan jadi katak dalam tempurung, jalan, tanya PA yang lain. masalah pribadi organisasi mu jangan di buat contoh buruk untuk PA semua.

    “klau kau merasa gak betul, rubah sistemnya. JANGAN JADI CECUNGUK!!

  5. Reblogged this on wisuda20.

  6. Reblogged this on Traveling Never Dies.

  7. masing masing gan,,membuat senang hati untuk sendiri itu hak pribadi dengn segala caranya,,, pecinta alam yang ente maksud menurut ente buruk,tapi baik dimata mereka, sama juga dengan ente, apa yang ente posting baik dan bagus, tapi buruk disisi mreka, karna dibalik kebaikan yang ingin ente tunjukan, ada kebodohan , suudzon, dan penghinaan, sudah jelas, semua hanya sudut pandang,baik buruknya tergantung cara berpandangan, dan kem,bali kepada diri sendiri….

  8. Pecinta Alam itu ada dalam diri masing-masing, Organisasi kendaraan utk berjuang.
    tidak perlu belajar untuk jadi pecinta alam, tapi pecinta alam perlu belajar untuk berjuang, makanya perlu adanya diklat untuk menggembleng,
    terlepas dari Tujuan masing-masing organisasi. jadi jangan samakan semua OPA dengan OPAmu, toh sampai sekarang tidak ada kurikulum Pendidikan PA kan..?? ente pasti tau kenapa..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: