Oleh: gispala | Juli 15, 2013

Apa Yang Kau Cari, Hai Pendaki?


dimas putra ramadhan

Lewat obrolan virtual itu  kau bertanya tentang petualangan-petualanganku. Tentang seberapa banyak puncak tinggi yang pernah kugagahi. Juga tentang seberapa luas rimba raya yang telah kucumbui. Selebihnya kau hanya bercerita tentang petualanganmu saja, tanpa titik koma. Padahal jika bisa kau  tatap mataku saat itu, tentu kau akan tahu jika sebenarnya aku enggan mendengar ceritamu.

Beberapa tahun yang lalu aku juga sama sepertimu kawan. Ketika secarik kain berwarna ungu itu baru saja melingkar di leherku. Saat benak ini hanya dipenuhi oleh satu obsesi. Mendaki, mendaki dan mendaki, itu saja. Namun, di tengah perjalanan akhirnya aku baru sadar akan sesuatu. Tak harus menjadi seorang pencinta alam, jika kau hanya ingin berpetualang! Sebab, mendaki sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukan hanya aku atau kamu, tapi juga mereka.

Kurasa mendaki itu cuma butuh tiga hal saja kawan. Duit yang cukup di tangan. Sedikit ketrampilan serta kekuatan. Dan, yang terpenting adalah belas kasihan. Yah, belas kasihan, itu yang paling dibutuhkan oleh seorang petualang. Bukankah karena sebuah belas kasihan Tuhan,  puncak tinggi itu bisa kita gapai dengan tangan? Bukankah karena setitik sifat Rahman-NYA pula kita bisa selamat  pulang, dan kembali berkumpul dengan keluarga?.

Kawan, mendaki itu bukan sebatas menumpuk dokumentasi di situs jejaring pribadi. Bukan pula ajang pembuktian sebagai seorang pencinta alam yang jantan. Jika itu saja yang ada dalam pikiranmu, kurasa kau masih belum memahami esensi dari mendaki. Dari setiap cucuran keringat, disitu ada mutiara hikmat. Dalam setiap perjalanan, disitu pula ada makna pelajaran tentang kehidupan.

Saat kau dirundung gila tenar dan sanjung. Cobalah untuk berdiri di puncak tinggi itu. Lihat kawan, adakah sorak sorai tepuk tangan penonton yang mengitarimu. Adakah spanduk “selamat datang” yang menyambutmu? Mungkinkah pula ada sebuah tropi yang bisa kau angkat tinggi-tinggi sebagai tanda kemenanganmu?

Saat kau di puncak tinggi itu, mungkin saja kau merasa lebih tinggi dari segalanya. Coba tengok di sekelilingmu. Kanan, kiri dan juga  yang ada di atasmu. Lihat, bandingkan dirimu dengan bentang alam yang menghampar di sana. Bayangkan dirimu ada diantaranya, itulah sebenarnya dirimu. Kau tak lebih hanyalah sebuah noktah yang mungkin tak nampak jika ditatap dari kejauhan. Masihkah kau merasa lebih tinggi? Jadi, kenapa kita merasa seakan mampu memegang matahari? Bukankah di atas langit masih ada langit kawan? Tak mungkin  kita mampu menggapai matahari itu. Bahkan untuk menatapnya saja, kau tak akan kuasa oleh silaunya.

Berada di puncak yang paling tinggi, bukan berarti kita telah menjadi pemenang sejati.  Jangan lupa kawan, semakin tinggi tempat kita berdiri, semakin kencang pula angin yang menerpa di kanan kiri. Posisi tinggi dalam kehidupan bukanlah jaminan tidur kita akan menjadi aman sekaligus nyaman. Sebab, bisa jadi ada angin dari luar sana yang akan menerpamu secara bertubi-tubi. Sekencang-kencangnya, tanpa kau sadari dari arah mana datangnya. Bahkan acapkali angin itu mencoba menjatuhkanmu hingga posisi serendah-rendahnya. Tapi, santai saja kawan. Bukan itu yang perlu kamu takuti. Jadikan saja ikhlas dan sabar sebagai tameng  untuk menahan terpaan angin di luaran sana.

Kuhanya takut  hembusan angin kecil dalam diri yang justru akan menggoyahkan kaki penopang kita berdiri. Tiupan angin dalam hati bernama sombong, riya’ dan dengki, itulah yang harus kita waspadai. Jangan biarkan tiupan itu semakin berhembus, menerobos dinding hati ini. Sebab, jika itu menjadi kebiasaan, bisa jadi akan menjadi sindrom saat usia senja nanti. Saat rambutmu telah dipenuhi uban, kau masih saja sibuk berebut pujian. Saat keriput mulai membalut kulitmu, kau pun masih saja bernafsu memburu jempol-jempol itu.

Kawan, bukan berarti aku antipati pada kata-kata mendaki. sebab, hingga hari ini petualangan itu masih kusenangi. Mungkin saja aku sedang jemu untuk melakukannya. Seperti halnya kejemuanku pada dunia abstrak yang sedang kulakoni lewat layar mini ini. Mungkin ada baiknya kita berbincang tentang hal yang lain saja. Sesuatu yang lebih pencinta alam tentunya. Tentang periculum in mora. Atau tentang alam raya yang butuh sentuhan sayang dari tangan kita. Kenapa kita enggan perbincangkan  jernih sungai yang sekarang berubah bak comberan? Kenapa kita tak berdiskusi lagi tentang burung-burung yang enggan bernyanyi kala pagi hari?

dimasputraramadhan
Mungkin lain waktu kubiarkan ransel gunung itu kembali memijat lembut punggungku. Mungkin lain hari aku akan kembali mendaki sepertimu. Tapi, tentu saja bukan bermaksud untuk menjadi yang lebih tinggi, atau mungkin meninggi. Sebab, mendaki itu kulakoni ‘tuk sekedar mengasorkan diri.

Salam Lestari !

Note : Hari ini lantunan Murattal “Al-Baqarah” Ust. Abu Usamah terasa lebih merdu dibanding kicauan sekerumunan burung di semak belukar itu.🙂

Dimas Putra Ramadhan
Djakarta, 15 July 2013 / 6 Ramadhan 1434 H


Responses

  1. permisi….
    wisata ke belitung yoook… laskar pelangi of island.
    (jointrip). untuk menekan cost para
    traveller.Target kami cukup 6seat untuk 1grup keberangkatan.
    Kalaupun anda mempunyai team sendiri, berjumlah 6orang, anda bisa
    menentukan sendiri tanggal keberangkatan.
    Paket ini sengaja di design se hemat mungkin. Sayang jika dilewatkan. Murah
    meriah tapi tidak terlantar… (he hee heee)
    * Durasi kunjungan 3hari 2malam.
    * Season ini dibuka untuk tanggal 14-15-16 februari 2014
    Dengan perincian biaya,
    * Tiket pesawat PP ± 1jt.
    (Jakarta~tanjungpandan~jakarta) untuk maskapai yg dipilih, silahkan
    konfirmasi dulu..
    kami hanya menetapkan maskapai apa???
    * 800.000/orang
    ( sudah termasuk ; mobil,hotel melati,boat ke pulau, alat snorkl kacamata &
    pelampung, karcis masuk, makan 4x )
    ###
    Jadwal kunjungan ;
    ***
    Hari pertama (belitung timur area) dengan penerbangan pagi, tamu dijemput
    dibandara. & langsung menuju belitung timur.
    – laskarpelangi of school
    – museum Andrea Hirata
    – pantai lalang
    – makan siang
    – pantai burung mandi
    – vihara dewi kwan im
    Lalu pulang ke tanjungpandan,
    – nongkrong dl dipantai tanjungpendam, sambil menantikan sunset.
    – pulang ke penginapan
    – makan malam
    ***
    Hari kedua :
    – breakfast
    – bukit berahu
    – tanjungkelayang, akses boat menuju pulau2… (makan siank dibungkus)
    – pulau lengkuas
    – pulau pasir
    – pulau batu berlayar
    – pulau kepayang
    – pantai tanjung tinggi (pantai laskarpelangi) sampai sunset.
    – balik penginapan
    – makan malam
    ***
    Hari ke3
    – breakfast
    – danau kaolin
    – rumah adat
    – transfer bandara tuk kepulangan

    Contact Person : +6281331939505 / 219ac6dc

  2. […] Fully copied from https://gispala.wordpress.com/2013/07/15/apa-yang-kau-cari-hai-pendaki/ […]

  3. terimakasih, semoga saya bisa jadi pendaki yang tidak keluar dari syari’at islam

    • sungguh sangat menyenangkan dalampendakian kita akan mengetahui arti diri…..

  4. Menikmati kesunyian di tengah wilayah yang asing yang tentu saja sangat berbeda dari keseharian di tengah hiruk-pikuk kota besar adalah salah satu tujuan bagi seorang pendaki. Jadi kosa kata untuk menjawab apa yang sebenarnya di cari dari seorang pendaki tidaklah hanya:

    A. Haus akan sanjungan dari lingkungan sekitar karena telah mencapai puncak-puncak tertinggi.

    B. Pamer dokumentasi di dunia maya/jejaring sosial untuk eksistensi yang berbeda.

    C. Mereguk nikmatnya popularitas dari seorang petualang.

    Adakalanya pengembara-pengembara yang memilih tempat untuk menyepi dan menyendiri itu memang membutuhkan kesunyian di puncak-puncak sana untuk memenuhi kebutuhan hidup batiniahnya (berpikir, merenung, bersyukur, mengatur ulang strategi dalam hidup, dll) dari apa yang disebut penulis blog ini dari apa yang disebut sebagai seorang ‘pendaki’.

    Salam.

    #hanya sudut pandang dari seorang pendaki kampungan.

  5. sumpah aku pengen bgt ke ranu kumbolo, kapan yah saiya bisa ikut r0mb0ngan,,? hub.083869658707 jogja,kaliurang,sleman


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: